Selasa, 15 Oktober 2019

Suatu Perbandingan Antar Agama By Erwin

Syalom...
Pada artikel kali, penulis membahas mengenai kaitan atau studi tentang agama-agama yang pada umumnya diakui di Indonesia.

Nah, berbicara tentang perbandingan agama, bukan berarti penulis ingin membandingkan agama untuk hal mencari kelemahan dan kelebihan masing-masing agama dan saling menjatuhkan, tapi lewat makalah ini harapan penulis, para pembaca dapat mengerti keunikan kepercayaan masing-masing sehingga saling menjaga kepercayaan masing-masing.

Selamat membaca, menyimak, dan semoga dapat dipahami denga baik.

Tuhan Berkati:) 

Note; Penulis membuat makalah ini ketika penulis mengikuti perkuliahan di Sekolah Tinggi Teologi Kibaid Makale !!!




MAKALAH PERBANDINGAN AGAMA
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
Frerianus Erwin
NIRM:
1501213
DOSEN:
Pdt. Firdaus Kurang, M.Th.

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KIBAID
MAKALE

2017/2018



Bab I
Latar Belakang
Kita perlu mempelajari semua ilmu agama dan teologi agama-agama. Tidak ada agama lain pun di dunia ini yang begitu jelas diterangkan menurut penanggalan historis. bila kita membandingkan dengan agama Kristen. Pekabaran Injil bagi kita orang Kristen. semuanya jelas dan terikat kepada tanggla dan waktu tertentu yang bersifat historis.
Agama adalah  ajaran. sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.[1] Banyak agama memiliki narasi. simbol. dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan/atau menjelaskan asal usul kehidupan atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang sifat manusia. orang memperoleh moralitas. etika. hukum agama atau gaya hidup yang disukai. Menurut beberapa perkiraan. ada sekitar 4.200 agama di dunia.    
  Banyak agama yang mungkin telah mengorganisir perilaku. kependetaan. definisi tentang apa yang merupakan kepatuhan atau keanggotaan. tempat-tempat suci. dan kitab suci. Praktek agama juga dapat mencakup ritual. khotbah. peringatan atau pemujaan tuhan. dewa atau dewi. pengorbanan. festival. pesta. trance. inisiasi. jasa penguburan. layanan pernikahan. meditasi. doa. musik. seni. tari. masyarakat layanan atau aspek lain dari budaya manusia. Agama juga mungkin mengandung mitologi.[2]
Di dunia ini sesuai dengan realita yang ada Tuhan menurunkan berbagai macam agama dan manusia bebas untuk memilh agama-agama yang ada namun pada dasarnya semua agama bertujuan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun ada juga diantara manusia yang menyatakan bahwa dirinya tidak percaya terhadap tuhan yang disebut atheis. Saat ini penulis akan memfokuskan pada agama primitive sebagai perbandingan dan juga dalam hal pengajarannya dan dampaknay terhadap pekabran Injil masa kini.
 Untuk membantu memahami perihal agama Primitif (Suku) dan bentuk-bentuknya serta pengaruhnya terhadap Pekabaran Injil itulah penulis membuat makalah dengan judul “ Pengaruh Pengajaran Agama Primitif Terhadap Perkembangan Injil Masa Kini”


Bab II
Pengertian Agama Primitif dan Bentuk-bentuknya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI) kata primitif yaitu keadaan yg sangat sederhana; belum maju (tt peradaban; terbelakang): kebudayaan.[3]
      Primitive ialah susunan tertentu budi manusia. suatu cara tertentu di dalam mengalami dan mendekati dunia dan tuhan. suatu pandangan tertentu terhadap segala kehidupan di sekeliling manusia dan suatu mentlaitas atau sikap rohani yang tertentu.[4]
E. Pritchard menyatakan bahwa agama primitif merupakan bagian dari agama pada umumnya. Bahkan. semua orang yang berminat pada agama harus mengakui suatu studi tentang pandangan dan praktek keagamaan pada masyarakat primitif yang beraneka ragam coraknya.[5]
Apabila dilihat dari segi sudut pandangnya. Islam. Kristen. Hindu dan agama-agama lainnya dapat dikategorikan sebagai agama primitif. atau berawal dari praktek-praktek agama primitif. mungkin agama ini berkembang dari agama yang kecil menjadi besar. yang dalam kurun waktu yang sangat lama tejadilah perkambanagn agama tersebut.
Banyak di jumpai sistem ritual. kepercayaan dan etika-etika manusia primitif misalnya. dinamisme. fetitisme. dan lain-lain yang dimana kesemuanya itu merupakan nama-nama ilmiah bagi suatu jenis keagamaan. agama primitif sendiri tidak mengenal adanaya isme-isme. kecuali orang yang memeluk agama Islam ia akan menyebut dirirnya muslim. sedangkan orang primitif tigak mengenal apakah dirinya animisme. dinamisme atau sebagainya.[6]
Setelah melihat uraian diatas dapat dikatakan bahwa masyarakat primitif berpadangan bahwa dunia dan alam sekitarnya bukanlah objek sebagai subjek. lain halnya dengan masyarakat modern memandang dirinya sebagai subjek sedangkan alam sebagai objeknya. Akibat dari tidak bisanya membedakan antara subjek dan objek antara manusia dan alam sektitarnya. akhirnya masyarakat primitif memandang sakral terhadap sesuatu yang dapat menimbulkan manfaat. kebaikan dan bencana. sebagai contoh apabila ada yang sakit mereka lebih mempercayai dukun dari pada dokter.
Oleh karena itu upacara-upacara keagamaan mewarnai aktivitas kehidupan mereka. seperti pada saat membuka sawah. ladang. perkawinan. serta perbuatan-perbuatan lainnya. Dalam setiap upacara memiliki mite-nya tersendiri. yang mempunyai suatu naskah atau skenario dari seluruh perbuatan manusia yang harus dilakukan pada setiap upacara dalam hidupnya.
Agama-agama primitif meskipun disana sini bersifat sinkretis (antara dua aliran). pada hakekatnya sangat berbeda-beda karena telah bercampurnya bebagai unsur. Satu contoh adalah beberapa agama yang bersifat demonistis (kepercayaan dan pemujaan terhadap roh) tetapi ada agama yang sama sekali tidak mengandung unsur-unsur demonisme. Demikian pula ada daerah tertentu yang tak mengenal totemisme. tetapi didaerah lain ada sisa-sisa toteisme yang tidak jelas dan sukar ditetapkan.[7]
Bentuk-bentuk agama Primitif
Dari pemikirian inilah kemudian lahir animisme. dinamisme. politeisme. henoteisme. dan monoteisme yang sekarang dikatagorikan sebagai kepercayaan dan kadang-kadang disebut sebagai agama alami.  
Manusia pada dasarnya memerlukan suatu bentuk kepercayaan kepada kekuatan ghaib. Kepercayaan ini akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup budayanya. Nilai-nilai itu kemudian melembaga  dalam tradisi-tradisi yang diwariskan turun-temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya.[8] Karena itu. tradisi sangat sulit berubanya dan kalau pn berubah sangat lambat.
1.    Agama Dinamisme ialah : Agama yang mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius. Dalam faham ini ada benda – benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari – hari. Kekuatan gaib itu ada yang bersifat baik dan ada pula yang bersifat jahat. Dan dalam bahasa ilmiah kekuatan gaib itu disebut ‘mana’ dan dalam bahasa Indonesia ‘tuah atau sakti’.[9]
2.  Agama Animisme ialah : Agama yang mengajarkan bahwa tiap – tiap benda. baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa. mempunyai roh. Bagi masyarakat primitif roh masih tersusun dari materi yang halus sekali yang dekat menyerupai uap atau udara. Roh dari benda – benda tertentu adakalanya mempunyai pengaruh yang dasyat terhadap kehidupan manusia. Misalnya : Hutan yang lebat. pohon besar dan ber daun lebat. gua yang gelap dll.[10]
3. Agama Monoteisme ialah : Adanya pengakuan yang hakiki bahwa Tuhan satu. Tuhan Maha Esa. Pencipta alam semesta dan seluruh isi kehidupan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.
4. Agama Politeisme ialah : mengandung kepercayaan kepada dewa-dewa. Dewa-dewa dalam politeisme talah mempunyai tugas-tugas tertentu. Tujuan beragama dalam politeisme bukan hanya memberi sesajen atau persembahan kepada dewa-dewa itu. tetapi juga menyembah dan berdoa kepada mereka untuk menjauhkan amarahnya dari masyarakat yang bersangkutan.
Persamaan dari agama-agama primitif tersebut adalah manusia membujuk kekuatan supernatural dengan penyembahan dan saji-sajian supaya mengikuti kemauan manusia.[11]

Bab III
Pengaruh Pengajaran Agama Primitif Terhadap Perkembangan Injil Masa Kini
Secara umum. agama merupakan alat untuk membawa kedamaian dan kepuasan jiwa. kenyamanan jiwa dengan keyakinan tertentu. Banyak orang sepakat bahwa perlu ada cara duniawi untuk memberikan kedamaian cita. Namun. jika berbicara mengenai sebuah jalan untuk memberikan kedamaian cita berdasarkan keyakinan. akan ada dua kelompok agama yaitu keyakinan tanpa filsafat dan keyakinan dengan filsafat.[12]
 Di zaman purbakala. orang menggunakan keyakinan untuk memberikan harapan dan kenyamanan saat mereka menghadapi keadaan-keadaan yang runyam. Dalam keadaan semacam itu. kepercayaan menyediakan harapan.[13] Sebagai contoh. dengan adanya cahaya kita merasa lebih aman. Sumber cahaya adalah matahari. sehingga matahari merupakan sesuatu yang suci bagi penyembah matahari. Api menyediakan kenyamanan saat kita kedinginan dan oleh karenanya dianggap sebagai sesuatu yang baik. Api kadang kala datang dari kilat yang misterius dan oleh karenanya api dan kilat dianggap sama-sama suci. Itu adalah kepercayaan primitif tanpa filsafat.
Agama-agama Timur Tengah; Yahudi. Kristen. dan Islam percaya akan adanya akhirat. dan menurut mereka kebenaran tertinggi adalah Tuhan. Tuhan itu pasti mempunyai kekuatan yang tak terbatas dan Tuhan melampaui pengalaman kita. Dan itulah agama teistik. Sedangkan agama non-teistik berpandangan bahwa semua yang datang dari sebab-sebab dan keadaannya sendiri.[14]
Setiap orang selalu mempunyai kecenderungan yang berbeda. Oleh karena itu. di antara umat manusia mempunyai jalan hidup yang berbeda. cara berpikir yang berbeda. Perbedaan-perbedaan itu dipengaruhi oleh lingkungan. geografi dan iklim. Mungkin di zaman purbakala. orang-orang di manapun lebih mirip. Namun sekarang karena perbedaan-perbedaan itu. penting untuk memiliki berbagai pendekatan. Tapi perbedaan filsafat dan pola pikir itu tidak terlalu masalah. Yang terpenting adalah maksud dan tujuannya. Karena semua tradisi utama memiliki praktik yang sama. hanya saja cara dan filsafatnya yang berbeda.
             Oleh karena itu ada beberapa hal yang sangat mendasar bagi agama primitf sehingga menghambat bagi pekabaran Injil masa kini. antara lain:
1.      Adanya keyakinana bahwa  factor-faktor kehiudpan primitive itu mempunyai arti pentng untuk dapat memahami suautu kehiudpan social pada umunya. dan menagatakan bahwa orang yang bertnaggung jawab atas perubahan iklim pemikiran dalam peradaban kitayaitu para pencipta mitos yang besar seperti Darwin. Karl Marx. Engels. Freud. semuanya memperlihatkan minat mereka yang besar terhadap orang-orang primitive dan memanfaaatkan pengetahuan orang-orang primitive itu dalam upaya mereka untuk meykinkan kita bahwa belajar mengenai agama primitive itu penting.[15]
2.      Agama primitive. itu adalah bagian dari agama pada umumnya. dan semua yang berminat terhadap agama haruslah mengakui bahwa suatu studi tentang pandangan dan praktek-praktek keagamaan pada masyarakat primitive yang beraneka ragam coraknya. justru akan menolong kita untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan tertentu tentang hakekat agama pada umumnya. dan oleh sebab itu juga tentang agama-agama positif yang mempunyai sejarh. atau wahyu. termasuk agama Kristen.[16]

Bab IV
Kesimpulan
Istilah primitif atau kebudayaan keadaan yg sangat sederhana; belum maju ) dicirikan pada manusia atau sekelompok orang yang hidup pada waktu lampau. oleh karena itu primitif tidak dilihat sebagai sesuatu yang ada dan hidup pada masa lampau. tetapi dapat saja terjadi pada seseorang pada saat sekarang masyarakat modern.
Agama-agama primitif meskipun disana sini bersifat sinkretis (antara dua aliran). pada hakekatnya sangat berbeda-beda karena telah bercampurnya bebagai unsur. Satu contoh adalah beberapa agama yang bersifat demonistis (kepercayaan dan pemujaan terhadap roh) tetapi ada agama yang sama sekali tidak mengandung unsur-unsur demonisme. Bentuk-bentuk agama primitif yaitu dinamisme. animisme. politeisme. henoteisme. dan monoteisme.
Kehidupan modern ditandai oleh melemahnya pola-pola kehidupan tradisional dan berkembangnya rasionalitas. Masyarakat modern lebih menggunakan perhitungan-perhitungan rasional tentang cara yang paling efektif  dan efisie untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain. masyarakat modern lebih percaya pada perhitungan rasional yang masuk akal dari pada percaya pada nasib atau campur tangan ilahi.




KEPUSTAKAAN
Alkitab:
Lembaga Alkitab Indonesia 2000
Buku-Buku:
Coward Harold. Pluralisme Tantangan Bagi Agama-agama. Yogyakarta: KANISIUS 1999.
Gintings E.P.. Agama Suku Agama Primitf dan Agama Batak Kuno. Bandung: Jurnal Info           Media. 2009.

Hadiwijono Harun. Kebatinan dan Injil. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.
Hadiwijono Harun. Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.
Honing A.G.. Ilmu Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1997.
Knitter Paul F.. Satu Bumi Banyak Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2003.
Leeuwen Arend Th. Van. Agama Kristen dalam Sejarah Dunia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.       2011.

Venema H.. Injil Untuk Semua Orang jilid 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1974.
Verkuyl J.. Samakah Semua Agama? Jakarta: Badan Penerbit Kristen 1961.
Kamus:
_______. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Internet:





[1]________, Kamus Besar Bahasa Indonesia, s.v “Agama”
[2] Arend Th. Van Leeuwen, Agama Kristen dalam Sejarah Dunia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 114
[3]­­­_________, Kamus Besar Bahasa Indonesia, s.v. “Primitif”
[4] A.G. Honing, Jr, Ilmu Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 12.
[6] Paul F. Knitter, satu Bumi Banyak Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003) 44-45
[7] E.P. Gintings, Agama Suku Agama Primitf dan Agama Batak Kuno, (Bandung: Jurnal Info Media, 2009), 21.
[8] Harold Coward, Pluralisme Tantangan Bagi Agama-agama, (Yogyakarta: KANISIUS 1999),  168
[9] A.G. Honing Jr. Ilmu Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997) 33-34
[10] Ibid,  53
[11] Harold Coward, Pluralisme Tantangan bagi Agama-agama, (Yogyakarta: Kanisius 1999) 27
[12]J. Verkuyl, Samakah Semua Agama? (Jakarta: Badan Penerbit Kristen 1961), 9
[13] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba di Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 2
[14] Paul F. Knitter, satu BumiBanyak Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003),  122
[15] Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) 140
[16] H. Venema, Injil Untuk semua Orang jilid 1, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1974), 210

Pelayanan di Kota Rantepao By Erwin

Paper Pelayanan Desa & Kota

Syalom.,

Manusia pada umumnya berada dalam kawasan yang disebut desa dan kota. Pada penggolongan keduanya masih dibagi kedalam beberapa golongan lagi.

Pada artikel kali ini, penulis mengupload sebuah paper tentang "Pelayanan Di Kota Rantepao".

pada artikel ini akan dibahas juga tentang golongan kota Rantepao.

Jadi, penulis berharap para pembaca untuk menyimak baik-baik.

Tuhan Berkati dan semoga bermanfaat :)


Kunjungi juga artikel terkait Disini



Note: Makalah ini penulis kerjakan sewaktu mengikuti perkuliahan di Sekolah Tinggi Teologi Kibaid Makale :) 



DAFTAR ISI

Daftar Isi............................................................................................................................ i
BAB
I.                   Pendahuluan.............................................................................................. 1
Latar Belakang.......................................................................................... 1
II.                Pengertian dan Dasar Alkitab Pelayanan Kota......................................... 3
Pengertian Pelayanan................................................................................. 3
Pelayanan Dalam Pl................................................................................... 4
Pelayanan Dalam PB................................................................................. 5
III.             Usaha Gereja TerhadapPelayanan Kota Rantepao.................................... 6
Konseling................................................................................................... 6
Penginjilan................................................................................................. 8
IV.             Kesimpulan.............................................................................................. 10
Daftar Pustaka .................................................................................................................. ii



BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kota adalah daerah pemusatan penduduk dengan kepadatan tinggi serta fasilitas modern dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar pertanian.[1]
Kota adalah salah satu ungkapan kehidupan manusia yang mungkin paling kompleks. Kebanyakan ilmuan berpikir berpendapat bahwa dari segi budaya dan antropologi, ungkapan kota sebaagi ekpresi kehidupan orang sebagai pelaku dan pembuatnya adalah penting dan snaagt prlu dioerhatikan. Hal tersebut disebabkan karena permukiaman perkotaan tidak memiliki makna yang berasla dari dirinya sendiri, melainkan dari kehisupan di dalamnya. [2]
            Jadi, kota adalah daerah yang memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak dan bervariasi dalam pekerjaan mereka.
Namun, situasi kota saat ini sangat memberikan banyak dampak akibat dari ledakan penduduk kota-kota yang disebabkan oleh urbanisasi karena daya tarik kota dimana banyak orang-orang desa berduyun-duyun memadati kota-kota, dan yang jelas telah menimbulkan ketidakseimbangan penduduk.
Herlianto mengatakan bahwa, “Ledakan perkotaan”: lebih dari 40 persen penduduk dunia bertempat tinggal di kota-kota-sebelumnya tak pernah sebesar ini.[3]
Situasi ini telah ikut menghasilkan kemerosotan lingkungan khususnya lingkuangan fisik, dan menyebabkan makin meluasnya kemiskinan dan kesenjangan social antar warga kota. Ini telah menjurus pada peningkatan kekerasan dan kejahatan perkotaan. Tetapi yang paling banyak dijumpai di kalangan perkotaan saat ini adalah masalah-masalah yang dihadapi oleh anak remaja dan orang tua. Dalam kehidupan di perkotaan, yang semakin padat penduduk dan kurangnya perhatian, maka semakin merosot pula kerohanian mereka sehingga banyak anak remaja bahkan orang tua yang terjerumus ke dalam pergaulan yang bebas.
Dalam menyikapi hal yang terjadi di perkotaan itu, maka timbul pertanyaan bagaimana Perilaku Umat Kristen Kota, dan bagaimana umat Kristen menyikapi akan hal yang sangat lumrah di jumpai ini ? Penulis memfokuskan pada pelayanan di kota Rantepao.
Ditengah situasi demikian maka patutlah memikirkan Pelayanan kota yang seutuhnya baik dengan bercermin pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

BAB II
PENGERTIAN DAN DASAR ALKITAB PELAYANAN KOTA

Selama ini, segala bentuk pelayanan sudah dilakukan seperti pelayanan Penginjilan, Persekutuan Doa, KKR, Seminar dan lainnya, tetapi masih banyak orang merebut pelayanan itu pada umumnya bersifat vertifikalistis dan belum dilakukan seutuhnya. Oleh karena itu penulis akan membahas tentang apa itu pelayanan.

Pengertian Pelayanan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Pelayanan adalah perihal atau cara melayani: atau usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan.”[1]
Pelayanan seutuhnya adalah pelayanan yang mencakup pemberitaan injil baik secara verbal maupun secara perbuatan dan ditunjukkan untuk menjangkau manusia seutuhnya pula yaitu manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, dan manusia yang mempunyai kaitan-kaitan social, budaya, ekonomi, hukum dan politik dengan lingkungannya.
Memang berbicara mengenai pelayanan seutuhnya orang-orang akan dibawa masuk ke dalam pelayanan yang sering dilupakan yaitu Pelayanan yang Horizontal. Banyak orang curiga dengan pelayanan perkotaan seutuhnya justru dan khususnya pada pelayanan horizontal karena adanya trauma yang terjadi dalam pelayanan Kristen dimana terjadi gerakan Pelayanan Injil social yang cenderung hanya melakuakn pelayanan social kepada sesamanya tetapi mengabaikan pelayanan vertical.
Untuk memahami pelayanan kota sesuai dengan Alkitab, maka penulis akan mengambil pemahaman pelayanan itu dari sudut pandang Alkitab.

Pelayanan Dalam PL
Bumi diciptakan dan dimulai di taman eden di mana manusia masih sedikit dan hidup dalam suasana agraris. Kain yang pembunuh itulah yang mendirikan kota pertama bernama Henokh sesuai nama anaknya (Kej.4:17). Keturunan Kain bernama Lameklah yang menuruni sifatnya dan ialah yang tercatat pertama melakukan poligami dan membunuh beberapa orang (Kej.4:23-24).
Lamekh mempunyai anak bernama Nuh, seorang yang benar dan hidup tidak tercela di antara orang-orang sezamanya sekalipun ia diperanakkan di tengah suasana kehiupan yang dirintis Kain danditeruskan oleh Lamekh yang menghasilkan kehidupan perkotaan penuh kemelut. Ternyata Allah tidak kompromi terhadap umatnya yang sekalipun percaya ternyata tidak menjalankan kehiupan sesuai perintah Tuhan.
Urbanisasi ke kota telah menjadikan manusia arogan dan mendewakan dirinya dengan menara Babelnya. Di tengah kehidupan yang berserakan itulah Tuhan memilih Abraham untuk bertransmigrasi untuk menjadi berkat bagi sesamanya (Kej. 11:6).
Keturunan Abram kemudian meluas dan mendirikan kota-kota dan Yusuf di jual ke mesir yang menyebabkan umat Israel pindah ke Mesir. Dari sinilha kemudian dialami drama keluaran dari Mesir menuju ke Kanaan dipimpin oleh Musa. Pada masa itu juga kelihatan dengan jelas bahwa umat Israel yang sudah beriman itu penuh dengan masalah sosial, ekonomi, hukum dan politis yang perlu dilayani sehingga diangkat para hakim untuk mengadili bangsa.
Jadi, sejak awal prinsip berita kesukaan Firman adalah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Pelayanan Dalam Perjanjian Baru
Berita Perjanjian Baru berkisar Injil sebagai “eungalion” yaitu “kabar baik mengenai Yesus” yang mencakup mendatangkan shalom bagi eksistensi manusia seutuhnya.
Ketika melihat Yuhan Yesus “sang Raja” itu memberi contoh dengan hidupnya bahwa kelahirannya ,erupakan bukti “solidaritas dengan rakyat jelata” dan “ia tidak lahir di hotel mewah atau rumah vila tetapi di kandang Betlehem. Allah bapa tidak menempatkan Yesus dalam keluarga kaya tetapi dalam keluarga sederhana yaitu tukang kayu. Ternyata kehadiran Yesus adalah untuk menghadirkan kerajaan Allah seutuhnya dan nyata kepada mereka yang membuthkan belas kasihan, bahkan dalam aktivitasnya yang awal Ia mengatakan bahwa misi yang diembannnya adalah pelayanan yang seutuhnya.
Memang benar bahwa Tuhan Yesus pun sering melayani orang kaya, tetapi bukan ditujukan untuk mengumpulkan persembahan mereka atau memperkaya diri, tetapi itu ditujukan untuk mengubah perilaku iman mereka gar menjadi seutuhnya. Mengubah orang-orang yang hanya menjadi berkat bagi dirinya sendiri menjadi berkat bagi orang lain.
Tuhan Yesus mengajarkan Hukum Utama agar kita “Mengasihi Tuhan dengan sepenuhnya”, tetapi hukum kedua menyatakan agar kita “ mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri” (Mat22:37-39), dan mengasihi sesama manusia itu diberi contoh sebagai karya horisontal yaitu :”menunjukkan belas kasihan kepada yang menderit seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang murah hati (Luk 10:25-37).
Jadi, Yesus dalam pelayanan lintas budaya tidak memfokuskan pelayanan-Nya di kampung-kampung tetapi sampai ke luar daerah.
BAB III
USAHA GEREJA  TERHADAP PELAYANAN KOTA RANTEPAO

Setelah melihat penjelasan dari Bab II diatas tentang pelayanan dalam PL,  maka pada Bab ini penulis akan membahas tentang Kota Rantepao tindakan gereja terhadap pelayan di kota Rantepao, yaitu melalui bentuk pelayanan Konseling dan Penginjilan.
Kota Rantepao merupaka sebuah daerah yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Toraja Utara. Kota Rantepao terkenal dengan banyaknya pengunjung mancanegara yang sering datang berwisata dan refreshing. Seirign dengan banyaknya wisatwan dan didukung dengan banyaknya objek wisata membuat kota Rantepao menjadi kota yang termasuk dalam kota Eupolis karena penduduknya yang sudah semakin banyak. “Kota Eupolis adalah desa yang bercirikan kota.”[1]

Konseling
Jason Lase, mengutip Carl Rogers dalam bukunya Client Centered Psychoterapy mendefinisikan konseling sebagai proses yang mengusahakan keseimbangan struktur kepribadian konseli, dengan menciptakan rasa aman dalam jalinan hubungan yang bersifat manusiawi dengan konselor dan dengan mengusahakan penerimaan pengalaman masa lampau yang menyakitkan, kemudian menintegrasikannya ke dalam kepribadian yang telah berubah[2].
Dengan demikian, konseling merupakan salah satau sarana yang dapat digunakan dapam upaya pendekatan pelayanan kota dikalangan remaja terutama yang terlibat dalam pergaulan bebas.
            Pada usia remaja kelenjar hormonal mulai berproduksi dan libido pun mulai meningkat. Pada saat itulah keingintahuan mereka tentang segala sesuatu yang berbau seks dan seksualitas sangat besar. Jika mereka tidak dapat menemukan cara yang tepat untuk menyalurkan energy seks mereka yang meluap-luap, hal itu menjadi salah satu bahaya terbesar bagi seorang remaja.
            Hal itulah yang mengkhawatirkan terbesar pada orang tua. Apalagi, mereka tidak tahu bagaimana mengendalikan dorongan seksual remaja putra dan putri mereka[3].
            Karena itu, anak remaja perlu mendapat bimbingan dan penyuluhan terutama dalam hal seks.
            Pertama, menjelaskan makna dan tujuan seks sebagai karunia yang harus dipelihara kekudusannya. Dengan demikian, mereka tidak merasa malu, mengingkari atau merasa salah dengan keberadaan tubuh seksual mereka karena Tuhan menciptakannya untuk kebaikan manusia.
            Kedua, jadikan Alkitab sebagai satu-satunya standar moral dalam pengajaran seks, yang kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan
            Ketiga, jadikan orang tua, sekolah, gereja, atau lembaga-lembaga yang kompeten dibidang itu sebagai sumber penerangan yang sahih tentang seks.
            Keempat, berikan informasi yang tepat berdasarkan ketentuan ilmiah yang rasional, bukan berdasarkan isu atau mitos.
            Kelima, jangan meremehkan pendapat mereka tentang seks dan seksualitas. Sebaliknya, hargai pendapat mereka, sekaligus koreksi jika terdapat persepsi yang keliru.
            Keenam, jangan menabukan seks karena menabukan seks membuat mereka kebingungan dengan tubuh seksual mereka. Oleh sebab itu, diskusikan secara terbuka sehingga mereka dapat menempatkan diri mereka pada posisi yang tepat ketika suatu saat mereka berhadapan dengan seks itu sendiri.
            Ketujuh, jangan menakut-nakuti mereka dengan berbagi mitos yang menyesatkan. Sebaliknya, berikan informasi yang rasional  sehingga mereka bertumbuh dengan pengenalan yang benar.
            Kedelapan, jangan menertawakan atau memarahi keingintahuan mereka tentang seks. Menertawakan dapat membuat mereka merasa direndahkan, sedangkan memarahi membuat mereka merasa terhina dan perasaan mereka terluka.
            Kesembilan, jauhkan buku-buku, film, majalah, VCD, atau informasi lainnya tentang seks dan seksualitas yang menyesatkan[4].
            Weeks dan L’Abate menyatakan  bahwa strategi yang akan digunakan pada saat-saat tertentu harus di tentukan oleh masing-masing klian dan disesuaikan dengan masalah yang sedang ditangani saat itu[5]

Penginjilan
            Selain konseling, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelayanan perkotaan adalh penginjilan.
Hendrik Sony dalam diktat perkuliahan penginjilan mengatakan bahwa, “Penginjilan ialah usaha yang dilakukan oleh manusia untuk memperkenalkan syalom Allah yang sudah ada sejak kekal (kairos) yang dimulai dari Allah atau memperjumpakan Kristus kepada manusia yang belum mengenal-Nya yang dilakukan dengan berbagai cara agar manusia tidak binasa, mereka dikuatkan dan menjadi dewasa di dalam bimbingan Roh Kudus.”[6]
            Hidup orang Kristen di dunia ini penuh dengan kendala. Banyak rintangan dan godaan sering menghalangi kemajuan. Tapi ingatlah janji Tuhan, “pencobaan yang dialami ialah pencobaan yang biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 kor. 10:13)[7].
Jadi, penginjilan adalah usaha membawa Syalom kepada manusia untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan.
Eka Darmaputera mengatakan dalam buku Pertumbuhan Gereja bahwa,:
 “sudah saatnya gereja-gereja di Indonesia menanam Injil di tanahnya sendiri agar Injil yang bertumbuh dan berbuah benar-benar dari tanahnya sendiri, bukan buah impor atau buah cangkokan. Inilah yang dapat menjawab dengan telak tuduhan yang ada disekitar kita bahwa agam Kristen adlaah agama asing, bahwa orang Kristen telah tercabut dari akar ke-Indoensiaannya”.[8]

            Kehidupan masyarakat yang hidup di perkotaan mengalami banyak rintangan dan godaan yang menghalangi kemajuan yang sarat dengan kehidupan perkotaan. Selain itu, kemajemukan pula menjadi satu hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan perkotaan[9]. Karena itu salah satu pendekatan yang dapat dilakukan kepada masyarakat kota yang adalah masyarakat majemuk adalah penginjilan yang diusahakan dapat menyentuh ke dalah ranah hidup pribadi setiap orang.

Bab IV
Kesimpulan
Kota adalah daerah pemusatan penduduk dengan kepadatan tinggi serta fasilitas modern dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar pertanian. Situasi ini telah ikut menghasilkan kemerosotan lingkungan khususnya lingkuangan fisik, dan menyebabkan makin meluasnya kemiskinan dan kesenjangan social antar warga kota. Karena itu pelayanan di kotak hususnya di rantepao sangat dibutuhkan.




KEPUSTAKAAN
ALkitab:
Lembaga Alkitab Indoensia. 2006.
Buku-buku:
Ellis. D. W Metode Penginjilan. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. 1999.
Hendricks Howard G.. Beritakan Injil Dengan Kasih. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1983.
Herlianto. Pelayanan Perkotaan. Bandung. YABINA. 2000.
Lase. Jason Konseling Pastoral. Bandung: Bina Media Informasi. 2009.
Paatang Hendrik Sony, Materi Perkuliahan Pelayanan Desa dan Kota. 2017
Paattang Hendrik Sony. Materi Perkuliahan Penginjilan 2017
Sopater Sularso. Petrus Octavianus. Pontas Pardede. dkk. Pertumbuhan Gereja. Yogyakarta:        ANDI. 1994.

Surbakti Elisa B.. Konseling Praktis. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. 2008.
Yeo. Anthony Konseling. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2001.
Kamus:
Kamus Besara Bahasa Indonesia. Balai Pustaka.
Website:
http://e-journal.uajy.acid/482/3/2MTAO1479.pdf




[1] Materi Perkuliahan Pelayanan Desa dan Kota, s.v. “Eupolis”
[2]Jason Lase, Konseling Pastoral, (Bandung: Bina Media Informasi, 2009), 13.
[3]Elisa B. Surbakti, Konseling Praktis, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008), 291.
[4]Ibid, 291-292.
[5]Anthony Yeo, Konseling, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2001), 244.
[6]Hendrik Sony Paattang, Materi Perkuliahan Penginjilan, s.v. “Penginjilan”
[7]D. W Ellis, Metode Penginjilan, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1999), 105.

[8]Sularso Sopater, Petrus Octavianus, Pontas Pardede, dkk, Pertumbuhan Gereja, (Yogyakarta:  ANDI, 1994), 167.

[9]Howard G. Hendricks, Beritakan Injil Dengan Kasih, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), 115.



[1] KBBI, s.v. “Pelayanan”




[1] KBBI, “kota”
[2] http://e-journal.uajy.acid/482/3/2MTAO1479.pdf. diakses tanggal 8 November 2017
[3] Herlianto, Pelayanan Perkotaan, (Bandung, YABINA, 2000), 2.

Latar Belakang Kisah Para Rasul

Latar Belakang Dalam Alkitab terjemahan baru ini disebut “Kisah Para Rasul”. Judul ini dapat kita ikuti jejaknya kembali ke abad yang...